LAPRAK KIMIA ASIDI ALKALIMETRI

PERCOBAAN 
ASIDI ALKALIMETRI

      I.        Tujuan :
1.    Membuat larutan standar sekunder NaOH 0,1 M dan standar primer H2 C2 O4
2.    Melakukan standarisasi larutan NaOH 0,1 M
3.    Menggunakan larutan stndar NaOH 0,1 untuk menetapkan kadar asam
asetat cuka perdagangan

Dasar teori :
Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor proton (asam ) dengan penerima proton (basa).
               Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam. Sebaliknya alkalimetri adalah penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa
a.       Asam dan basa
Ada 3 pengertian mengenai apa yang disebut asam dan apa yang disebut basa :
1.      Menurut Arrhenius ,
Asam adalah senyawa yang jika dilarutkan dalam air akan terurai menjadi ion hydrogen (H-) dan anion, sedangkan basa adalah senyawa yang jika dilarutkan dalam air akan menghasilkan ion hidroksida (OH-) dan kation. Teori Arrhenius hanya berlaku untuk senyawa anorganik dalam pelarut air.
2.       Untuk dapat berlaku dalam segala pelarut, maka Bronsted pada tahun 1923 memberikan batasan yaitu : asam adalah senyawa yang cenderung melepaskan proton sedangkan basa adalah senyawa yang cenderung menangkap proton.
A → H + B
Asam → proton + basa konjugatnya
3.      Batasan lain diberikan oleh Lewis pada tahun 1938 yang menyatakan bahwa asam adalah akseptor (penerima ) pasangan electron sedangkan basa adalah donor (pemberi ) pasangan electron.(Haryadi,1990)
              Asidimetri adalah salah satu teknik titrasi yang yang menggunakan asam sebagai titran. Asam yang sering dipakai dalam analisis asidimetri adalah HCl. Asam ini harus distandardisasi dengan larutan baku primer. Larutan baku primer yang sering digunakan untuk standardisasi HCl adalah larutan boraks. HCl harus distandardisasi karena larutan ini mudah menguap dan mudah bereaksi dengan senyawa lain di udara.(Underwood,1999)
Asam klorida (HCl) merupakan asam kuat yang berbentuk cair dan biasanya mempunyai kadar 39,1 % dan density 1,2 g/ml. HCl digunakan pada titrasi netralisasi, yaitu suatu proses yang tidak mengakibatkan terjadinya perubahan, baik perubahan valensi maupun terbentuknya endapan dan atau terjadinya suatu senyawa kompleks dari zat-zat yang saling bereaksi.
    Larutan  standar HCl biasanya dinyatakan dengan besaran normal, yaitu larutan 1 N (1 N) adalah larutan yang mengandung 1 grek suatu zat tertentu dalam volume 2 liter. Untuk 1 grek HCl adalah banyaknya mol asam tersebut yang dapat melepaskan 1 gram ion H+.
Alkalimetri adalah titrasi yang menggunakan basa sebagai titran. Basa yang sering dipakai dalam analisis alkalimetri adalah NaOH. Larutan baku primer yang sering digunakan untuk standardisasi NaOH adalah larutan asam oksalat. NaOH perlu distandardisasi karena senyawa ini bersifat higroskopis sehingga mudah mengikat air dan bereaksi dengan CO2 di udara
Larutan baku primer adalah H2C2O4. 2H2O (asam oksalat)  adalah zat padat , halus, putih, larut baik dalam air. Asam oksalat adalah asam divalent dan pada titrasinya selalu sampai terbentuk garam normalnya. .berat ekivalen asam oksalat adalah 63. Larutan baku sekunder adalah larutan baku yang konsentrasinya harus ditentukan dengan cara titrasi terhadap larutan baku primer.
Larutan NaOH tergolong dalam larutan baku sekunder yang bersifat basa. Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air. Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50%. NaOH bersifat lembab cair dan secara spontan menyerap karbondioksida dari udara bebas. Ia sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan. NaOH juga larut dalam etanol dan metanol, walaupun kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil daripada kelarutan KOH. NaOH tidak larut dalam dietil eter dan pelarut non polar lainnya.(David,2000)
        Pembuatan larutan standar dari zat yang berbentuk cair sering disebut cara pengenceran, yaitu dari zat cair yang lebih pekat menjadi lebih cair.cara ini dapat dilakukukan pada cairan yang telah diketahui normalitasnya.Apabila suatu larutan standar dibuat dari zat cair yang telah diketahui normalitasnya, maka untuk menentukan banyaknya volume yang akan diencerkan digunakan rumus :
V1 x N1 = V2 x N2 (Rubinson,1998)
4.    Alat
1.    Labu ukur                       2 Buah
2.    Gelas beaker                  2 Buah
3.    Gelas arloji                     3 Buah
4.    Erlenmeyer 100 ml         2 Buah
5.    Buret 10 ml                     1 Buah       
6.    Pipet tetes                      1 Buah
7.    Pengaduk                       1 Buah
8.    Spatula                           1 Buah
9.    Statif dan Klem               1 Buah
10.  Pipet ukur 25 ml             1 Buah
11.  Timbangan analitik         1 Buah
5.    Bahan
1.    Air bebas Co2                 100 ml
2.    Aquades                         200 ml
3.    Asam oksalat                  0,63 g
4.    NaOH                             0,4 g
5.    Cuka                              10 ml
6.    Indikator pp                    6 Tetes


6.    Prosedur Kerja
a.    Membuat larutan standar NaOH
Diencerkan dengan air bebas CO2
NaOH 0,4 gr
 



                                                                                                         
Masukkan dalam labu ukur dan di tara hingga 100 ml
Larutan NaOH 0,1 M
Kocok hingga homogen
 










b.    Standarisasi NaOH  dengan asam oksalat
Dilarutkan Dengan aquades di gelas beaker
Ambil 10 ml asam oksalat
Masukkan kedalam erlenmeyer
Beri tetesan indikator pp 2 tetes
Titrasi dengan larutan NaOH 0,1 M
Asam oksalat sebanyak 0,63 gr
Berubah warna menjadi pink
Masukkan dalam labu ukur dan di tara hingga 100 ml
 





















c.     Penetapan kadar asetat pada cuka

Masukkan kedalam labu ukur 100 ml
Ambil 10 ml larutan yang sudah diencerkan
Masukkan kedalam erlenmeyer
Tambahkan 3 tetes indikator pp
10 ml cuka
 











                                         
Kemudian dititrasi dengan larutan NaOH
Berubah warna menjadi pink
 








I.              Data Pengamatan
·         Membuat larutan standar NaOH 0,1 m
No
NaOH 0,1
Air bebas CO2
Hasil
1
0,4 gram
100 ml
Larutan standar NaOH 0,1 M

·         Standarisasi NaOH dengan asam oksalat
No
NaOH 0,1
Asam oksalat
Indikator pp
Hasil
1
11 ml
10 ml
1-2 tetes
Terjadi perubahan warna pink

·         Penetapan kadar asetat pada cuka
No
NaOH 0,1
Cuka
Indikator pp
Hasil
1
4,8 ml
10 ml
2-3 tetes
Terjadi perubahan warna pink

II.            Analisis Data
1.    Membuat larutan standar NaOH 0,1 M
Diket : M         = 0,1 M
           G          = 0,4 gram 
           V          = 100 ml
Ditanya : Mr....................?
Dijawab :
                 Mr = M.G.1000
                           V ( ml )
                      = 0,1 × 0,4 × 1000
                                   100
                     =  40
                         100
                     = 0,4 g/mol
2.    Konsentrasi standar larutan NaOH
Titrasi pertama :
M NaOH 2 X V H2C204 X M H2C204
                                                               V NaOH
                                  M NaOH 2 X 10 ml x 0,05
                                                         10 ml
                                  M         = 0,1 M
3.    Konsentrasi kadar asetat pada cuka
M = M.NaOH X V NaOH
           V asam cuka
M = 10
      10 ml
M = 6      X 1000
      Mr         V(ml)
       6       X  100%
    0,01 L
    = 0,63 Gr

III.           Pembahasan
          Pada percobaan kali ini praktikan akan  mengetahui tentang bagaimana melakukan titrasi yang baik dan benar dan mengetahui bagaiman titrasi asam okslat dan cuka.
Analisis volumetri adalah suatu analisis kimia kuantitatif untuk menentukan banyaknya suatu zat dalam volume tertentu dengan mengukur banyaknya volume larutan standar yang dapat bereaksi secara kuantitatif dengan zat yang kan ditentukan. Penentuan konsentrasi zat atau larutan dilakukan dengan cara mereaksikannya secara kuantitatif denga suatu larutan lainnya pada konsentrasi tertentu.
Titrasi adalah suatu penambahan larutan standar kedalam larutan yang akan ditentukan sampai terjadi reaksi sempurna. Sedang saat dimana reaksi sempurna dimaksud tercapai disebut titik ekivalen atau titik akhir titrasi. Pada proses titrasi ditambahkan indiator kedalam larutan standar primer untuk mengetahui perubahan warna sebagai indikasi titik ekuivalen titrasi telah tercapai.
Larutan standar primer adalah larutan standar yang dipersiapkan dengan menimbang dan melarutkan suatu zat tertentu dengan kemurnian tinggi ( konsentrasi diketahui dari masa dan volume larutan). Sedangkan larutan standar sekunder dalah larutan standar yang dipersiapkan dengan menimbang dan melarutkan suatu zat dengan kemurnian relatif rendah sehingga konsentrasi diketahui dari hasil standarisasi.
Sifat-sifat yang terkandung dalam NaOH adalah natrium hidrosida murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet,serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50% yang biasa disebut larutan sorense. Ia bersifat lembab cair  dan secara spontan menyerap karbondiokida dari udara bebas. Ia sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan, karena pada proses pelarutannya dalam air bereaksi secara eksotermis. Ia juga larut dalam etanol dan metanol, walaupun kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil daripada larutan KOH. Ia tidak larut dalam dietel eter dan pelarut non- polar lainnya. Larutan natrium hidrosida akan meninggalkan noda kuning pada kain dan kertas
Sifat asam oksalat dalam keadaan  murni berupa senyawa kristal, larut dalam air ( 80 % pada 100 c ) dan larut alam alkohol. Asam oksalat membentuk garam netral dengan logam alkali ( NaK ), yang larut dalam air (5- 25 %), sementara itu dengan logam dari alkali tanah, termasuk Mg atau dengan logam berat, memepunyai kelarutan yang sangat kecil dalam air. Berdasarkan sifat tersebut asam oksalat digunakan untuk menentukan jumlah kalsium. Asam oksalat ini tereonisasi dalam media asam kuat.
Dilakukan standarisasi untuk menentukan faktor normalitas suatu zat. Dan dilakukan pengenceran yaitu karena dalam pengenceran sangat mudah membuat larytan tercampur dengan sempurna.
Memekai indikator pp karena trayek pH yang dihasilkan CH3COONa mendekati trayek pH indikator pp ( 8-9,6 ) dan pada keadaan asam indikator pp tidak berwarna dan pada keadaan basa berwarna merah muda, sehngga cocok untuk titrasi asam oleh basa.
Cuka komersil adalah
Pada percobaan pertama yaitu membuat larutan standar NaOH 0,1 M yaitu pertama praktikan harus menimbang NaOH sebanyak 0,4 gram terlebih dahulu, setelah itu encerkan NaOH dengan air bebas CO2 sebanyak 100 ml. Dalam proses pegenceran aduk NaOH hingga larut lalu tuangkan pada labu ukur dan tutup hingga rapat.
Pada percobaan kedua yaitu standarisai NaOH dengan asam oksalat pertama praktikan harus menimbang asam oksalat sebnayak 0,3 gram pada gelas arloji, larutka asam oksalat dalam gelas beaker lalu tuangkan pada labu ukur berukuran 100 ml, ambil 10 ml asam oksalat lalu masukkan kedalam erlenmeyer beri 2 tetes indikator pp, masukkan NaOH 0,1 M kedalam buret dengan menggunakan pipet volume, setelah itu teteskan sedikit demi sedikit kedalam erlenmeyer sambil diaduk hingga berubah warna dan catat volume NaOH yang digunakan hingga mengalami perubahan warna.
Percobaan ketiga yaitu penetapan kadar asetat pada cuka, pertama pratikan menyiapkan 10 ml cuka dan masukkan kedalam labu ukur 100 ml, lalu ambil 10 ml larutan dan masukkan kedalam erlenmeyer dan tambahkan 3 tetes indikator pp. Masukkan NaOH kedalam buret dengan menggunakan pipet volume lalu teteskan sedikit demi sdikit NaOH kedalam erlenmeyer, selam penetesan janga lupa untuk di goyangkan smapai terjadi perubahan warna lalu hitung volume NaOh yangdigunakan untu dapat terjadi perubaha.
Selama melakukan percoban banyak kendala yang praktikan alami yaitu kurangya penerangan karena diakibatkan mati lampu sehingga banyak yang tidak berhasil dalam percobaan ini, alat yang tidak bisa digunakan sehingga tidak dapat dengan mudah melakukan praktikum lalu adanya kesalahan yang telah praktikan lalui yaitu terlalu cepat memberi cairan NaOH kepada asam oksalat sehingga warna yang seharusnya menjadi pink berubah menjadi pink keunguan.
IV.          Kesimpualan
1.    Setelah melakukan percobaan praktikan dapat membuat larutan HCI 0,1 dengan sendirinya dan dengan cara yang telah dianjurkan.
2.    Larutan standar sekunderNaOH 0,1 M dapat dititrasi dengan asam oksalat yang akan berubah menjadi warna pink setelah diberi indikator pp.
3.    Dalam melakukan standarisasi larutan HCL 0,1 M dan NaOH dapat dilakukan dengan asam oksalat dan cuka.
4.    Setelah dilakukan percobaan praktikan dapat menentukan atua menetapakan asam asetat  cuka perdagangan yang layak diperdagangkan dan dikonsumsi oleh manusia.



Daftar pustaka
                Day, Underwood. 1999. Kimia Analisis Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.
Haryadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: Gramedia.
                 Harvey, David. 2000. Modern Analytical Chemistry. Toronto: John Wiley
                 Rubinson, Judith dan Kenneth A. 1998. Contemporary in Analytical  Chemistry. Toronto: John Wiley & Sons.
                 Syukri,1999,Kimia Dasar 2,Bandung ; ITB















                                                     Universitas Darussalam Gontor,14 November 2017
Disetujui oleh                                      Diperiksa oleh                         Disusun oleh
          Dosen Pengampu,                                Asisten,                                   Praktikan,



Himyatul Hidayah, S.Si,M.Kes,Apt     Hasna  Hanifah A.R               Nilam Nastiti

Komentar

Postingan populer dari blog ini